AVATAR (The Legend of PD Pasar)

Dihari ke-7 saya di Malang yang diwarnai hujan ini saya jadi inget kantor dan sahabat saya disana.
Berhubung kerjaan beberes rumah bisa dipending, saya mau cerita dulu yaa…

Sebut saja kami AVATAR.

Kenapa namanya Avatar? Sayapun sampai saat ini lupa, darimana nama itu berasal? Ide siapa?

Apa ide Elis si Anak Sapat alias Avatar Angin yang sangat “kritis”?

Atau ide Ka Netty alias Imas alias Avatar Api yang menggebu gebu? (yang sampai saat ini masih tidak merasa dirinya adalah elemen api haha)

Mungkinkah ini ide Ka Ayu sang Ibu Kabid Keuangan yang juga bergelar 6 million dollars woman alias orang kada penyamanan alias Avatar Air?

Apa saya sendiri yang mau tak mau mengambil elemen terakhir yaitu Tanah yang suka sensian?

Jadiii saya ini dulunya adalah sekretaris yang bingung karna harus stay diruang kantor tanpa teman. Emang benar ruang kerja saya itu ga full dinding alias cuma terpisah sekat sama ruang Bidang Keuangan. Tapi kebayang dong; orang baru, ga punya senior secretary, ga ada temen seruangan, ruang sebelah kelihatannya isinya Ibu Ibu dan bapak bapak yang serius banget juga galak (khusus Imas), dan mau ga mau mesti sapa sapaan sama mereka karna cuma mereka yg bisa diajak ngobrol.

Baru beberapa hari ternyata Bu Mey, Pa Andin, Pak Saip, Bu Ayu, dan Bu Netty ga seperti yg saya bayangin. Asik juga mereka diajak curhat daaan oke oke aja dibully tiap hari (khususon Pa Andin alias Papi Kusuma alias manajer anak anak kemos haha). Kesan serius yang saya dapat pertama kali setelah liat mereka sirna gitu aja. Jadi banyak banget obrolan dari yg penting sampai tidak penting yg terjadi disana.

Sampai datanglah elemen angin menyerang alias Elis yang masuk 2 bulan setelah saya. Kirain Ibu Ilis ini orangnya pendiem gitu, astaagaa aslinya lebih cerewet daripada Ibu Kos nagih duit bulanan (Kata Ibu Ayu dia nyesel kasih tau ada lowongan kerja kalau tau si Elis begitu amat hehe). Pokoknya Elis yang cerewet klop banget sama Ka Netty yang emosian (hayoo Imas ngaku ngaku sampean itu API API API) Api kesulut banget kalau lagi bareng Angin.

Korbannya tak lain dan tak bukan adalah Ibu Kepala Bidangnya sendiri yaitu Ka Ayu yang orangnya ga enakan sama orang, nerimo, nurut (makanya dia kaya air yang mengalir, kan?) Walopun kalo lagi didesak traktiran lebih panjang ngomelnya daripada Ka Netty. Tapi sepanjang saya kerja disana emang Bu Ayu ga pelit sih. Dapat rezeki apapun pasti mau nraktir kita kita. Dan kalo lagi dibully Angin dan Api, cuma saya yang jadi pembelanya. Hehe. Walopun ujung ujungnya kami berdua kalah. Pokoknya di ruang keuangan yang sekat sekatan sama ruang sekretaris itu tiada hari tanpa kehebohan. Entah ngomelin si ono, diomelin si Inu minta traktir si Ini (korbannya biasanya Pangeran Andre, Pa Humaidi atau Direktur langsung haha. Level ngbajaknya sudah tingkat profesional kami ini).

Selain kehebohan kami berempat di Kantor PD Pasar, kehebohan lain juga terjadi di Mall, Rumah Makan, Karaoke, Bioskop sampai Tempat Ngopi pinggir Siring. Kenapaaaa? Karena kita berempat suka quartet date sama suami masing-masing dari makan dan nonton bareng.

Ditambah ide gila Elis sama Ka Ayu kalau tiap ada tanggal penting apapun harus dirayain dan traktiran bareng suami (Awalnya saya dan Imas menolak keras. Apa daya harus ngikut aturan dadakan ciptaan mereka berdua). Jadi mau ultah salah satu dari kami kek, ultah suami, ultah pernikahan, selamatan apapun harus traktiran. Kebayang kan bangkrutnya? huft. Yang paling enak sih jadi papi kusuma karena doi masih high quality jomblo. So, doi selalu jadi tamu kehormatan disetiap acara kami. Padahal kami udah lakuin segala cara lhoo biar doi dapet istri dari makcomblangin ama anak mak haji dipasar sampe ikut biro jodoh, tapi hasilnya nihil; ga cucoklah, ga jodohlah akhirnya doi belum bisa ganda campuran juga sampe sekarang.

Tibalah saat saya harus pergi dan ninggalin semua element berawalan A itu. Saya harus ikut suami ke Malang. Saya harus istirahat demi hadirnya sosok yang saya dambakan melebihi apapun di dunia ini. Hati saya sedih sekali harus pisah dengan ruangan bersekat itu, yang kecil tapi nyaman karena adanya mereka. Saya harus pamitan sama notulen rapat, laporan, dan tamu tamu beragam jenis maunya yg menjadi rutinitas harian. Pada teman-teman yang antar surat, nyari surat, ambil surat yang bikin saya gagal move on sampai saat ini. Pada Direksi yang mengizinkan saya belajar banyak dan memaafkan kesalahan dan kelambanan saya bekerja. Aah, saya jadi sedih…

So, Avatar ini adalah warna lain dalam hidup saya yang membuat saya bersyukur bekerja disana. Saya menemukan keluarga kedua yang baik hatinya. Sampai jumpa Air, Api, dan Angin. Semoga kita bisa bertemu di Malang yaa buat liburan bareng suami. Hutang saya traktiran bakal dilunasi, makanya kalian harus kesini. Semoga saya menjadi orang tak tak bisa kalian lupakan, sama seperti arti kalian bagi saya; Keluarga.

Sehari setelah last day saya mereka berempat keukeuh banget nyuruh ke kantor katanya buat kasih sesuatu yang baru boleh saya buka di Malang. Sebenarnya hari kedua disini sudah saya buka tapi tiap Elis tanya ‘sudah dibuka din kadonya?’ Saya jawab belum sempat. Niat saya memang membuat catatan ini buat mereka sekaligus rasa terima kasih saya untuk isi bingkisannya

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Surat dari Elis bikin saya terharu, surat dari Ka Nettie bikin ngakak guling-guling. Ternyata Avatar Api itu ada bakat jadi penulis novel humor. Sumpah lucu binggo haha.

Isi kadonya? Hmm. Kalian akan tahu saat mereka semua kumpul di Malang buat liburan bareng nanti di Blogpost selanjutnya.

By the way, telimikici teman teman. Kalian luar biasaaaaaaaa *peluk*

Advertisements

2 thoughts on “AVATAR (The Legend of PD Pasar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s