Catatan Singkat tentang Lika Liku di Trimester 1 Kehamilan Pertama

Akhirnya setelah cukup lama menanti buah hati dengan sabar,  moment 3 bulan pertama dalam kehamilan ini dapat saya rasakan juga.

Jauh sebelum saya merasakan momen kehamilan, saya sudah sibuk sekali mencari tahu dari siapa saja serta dari buku apa saja,  tentang kehamilan dan “do and dont” mengasihi anak setelah melahirkan. Bahkan MPASI WHO aja sudah diluar kepala. Saya tipe orang yang “siaga” sama apapun rezeki yang diberikan Allah,  termasuk anak.  Saya ga mau mempelajari semua hal itu otodidak atau “harus” karena memang waktunya.

Jadilah jauh sebelum kehamilan ini saya sudah bertekad kuat dalam hati (semacam mensugesti positif ke diri sendiri) kalau suatu saat saya akan menjadi Ibu yang siap menghadapi kehamilan tanpa mengidam berlebihan,  drama mual-muntah yang tak berkesudahan,  manja ga ketulungan,  and desebre desebre karena saya kuat dan memiliki janin yang super sehat. Dan ketika kehamilan itupun terjadi karena izin Allah,  maka itulah yang juga benar-benar menjadi kenyataan!

Segera setelah tespack ‘dua garis’ yang mengharu biru,  saya yang memang sudah memiliki list dokter perempuan di Kota Malang (suami ga mau kalo saya harus diperiksa dokter pria😅), segera tancap gas buat mencari tahu lebih lanjut tentang jadwal praktek beberapa dokter. Saat itu saya berjodoh dengan Dr.  Novina Sp.  Og yang membuka praktek di Jalan Garbis No. 8. Malamnya saya langsung mendaftar by WA dan dapat no. urut 24 untuk keesokan harinya (11 Desember 2018)

Saya dan suami berjanji untuk tidak memberitahu satupun keluarga kami tentang hasil tespack itu sebelum memastikan terlebih dahulu ke dokter. Alhamdulillah setelah antri dari jam 12 siang,  jam 14.30 kita masuk ruangan juga dan bertemu Ibu Dokternya yang Alhamdulillah baik dan bersahabat. Setelah diperiksa dg cukup lama (karena perut saya yg kata dokternya “tebal” 😁) ditemukan juga kantong janin berukuran 1,05 cm dengan usia kehamilan 5 minggu 1 hari. Alhamdulillah dari awal kehamilan saya ga pernah keluar flek, paling hanya tekanan darah yg biasa normalnya 110/80 setelah diperiksa disana jadi 130/80 akibat sewaktu ditensi saya terlalu cemas dengan hasil usg. Tau sendiri lah ya, 3,6 tahun menanti dengan total 4x USG yang hasilnya nihil dan harus USG lagi untuk memastikan keberadaan janinnya

Alhamdulillah USG yg ke-5 ini membuahkan hasil positif. Ibu dokter menyarankan untuk tidak memakan makanan mentah/ setengah matang, jangan berhubungan, dan bedrest dulu selama dua minggu. Saya diberi penguat kandungan dan vitamin yang mengandung asam folat dan zat besi untuk dikonsumsi selama dua minggu.

Alhamdulillah selama minggu ke 5-7 saya masih makan dengan lahap dan ga ada keluhan apapun tentang makanan. Memang beberapa kali diminggu ke 6-7 saya mengalami mual (yang ga cuma terjadi dipagi hari/ morning sickness), tapi tanpa muntah sama sekali. Karena kalau lagi mual saya ajakin janinnya ngobrol “Sayang,  jangan dimuntahin ya makanannya. Anak pintar, anak sehat” eh bener aja mualnya langsung berhenti seketika😁

Diminggu ke-7 sempat terserang flu dan pilek tapi saya ga ada minum obat sama sekali karena memang dari awal banget janji ke diri sendiri ga mau minum obat apapun selama hamil. Paling saya rutin minum madu dan air putih hangat. Ajaibnya juga 3 hari sudah berhenti aja sakitnya. Dilain waktu, pernah juga ada 1-2 biji jerawat nangkring diwajah tapi itupun cepet banget hilangnya. Nikmat Allah mana lagi yang harus saya dustakan?

Ngidam? Kalau ngidam diartikan kearah menginginkan sesuatu yang harus ada saat itu juga berarti saya nggak ngidam😅. Keinginan akan suatu makanan itu ada sih, tapi ga mesti tersedia secepatnya. Kaya saya mau bolu bikinan mama dan mandai goreng (dari kulit cempedak yang lagi musim di Banjar),  tapi mintanya pas mama ke Malang aja di moment 4 bulanan nantinya. Sama ga tau kenapa kebayang banget sama buah sukun tapi pas ga musim di Malang. Alhamdulillah Mama Ratna (tante), Kiki (sepupu)  dan Nenek saya bela belain kirimin sukun dari Banjarmasin! Terharu banget saya dapat kiriman itu padahal bilangnya juga iseng. MasyaAllah dikabulin,  padahal lebih mahal ongkirnya daripada harga sukunnya😢 Luar biasa banget rezeki anak kami.  Semoga selalu jadi anak yang beruntung didunia dan diakhirat ya,  Nak. Aamiin

Selanjutnya, dengan berbekal review bagus tentang Rumah Bidan Rina di Malang diberbagai forum dan blog,  saya memutuskan untuk periksa kesana pada tanggal 3 Januari 2018. Alhamdulillah selesai hujan sore itu lagi ga antri dan janinnya langsung diintip sama Bu Bidan Rina. Kantong ‎janinnya sudah berukuran 3,81 cm dengan usia kandungan 8 minggu 4 hari dan perkiraan janin 2 cm. Kenapa masih perkiraan? karena janinnya belum terlihat jelas. Lagi lagi karena perut saya yang tebal 😭 tapi pas USG kelihatan kok janinnya ada walaupun masih samar

Entah ya,  saya senang banget kontrol disana. Bidan Rinanya kasih sugesti positif terus,  nggak banyak kasih pantangan asal makannya ga berlebihan. Lebih menekankan pada makanan yang dikonsumsi harus memiliki nutrisi (terutama protein) . Yang paling penting saya harus sugesti positif bahwa tubuh saya siap hamil dan saya harus menikmati proses kehamilan itu. Persis kaya yang dari dulu saya lakuin. Cocok lah sama Bubid👍

Minggu ke 8-10 mulai deh makannya rada picky alias milih hehe makanan yg biasanya super duper saya suka jadi ga suka kaya hotcuimie dan lalapan disekitar suhat,  mual nyium bau ind*mie pas bikinin suami, dan porsi makan juga berkurang. Akhirnya saya akalin makan sedikit tapi sering, Alhamdulillah berhasil. Pernah juga merasakan sakit pinggang, tapi saya anggap itu bagian dari perjalanan pertumbuhan janin saya. So I deal with it. Lagi lagi apapun gejolak ditrimester 1 selalu ada jalan keluarnya karena janinnya kooperatif banget, mau diajak kerjasama. Jadi saya selalu mengawali hari dengan segelas air putih dan madu,  lalu sarapan+ susu, makan siang dan dilanjutkan ngemil alpukat disore hari serta makan malam dengan teratur

Sempat batuk ringan diminggu 10-12, tapi senangnya nafsu makan saya balik lagi. Akhirnya pas periksa ke Rumah Bidan Rina di minggu ke-11 (23 Januari 2018) saya disarankan minum jeruk nipis,  air hangat juga madu. Alhamdulillah panjang janinnya juga sudah 4,86 cm. Seneng banget tiap kontrol dan mendengar kalau janinnya sehat dan normal semuanya. Kenapa kontrolnya lebih cepat dari seharusnya?  Karena kami mau konsul akhir sebelum berangkat ke Bali esok harinya. Bukan,  bukan dalam rangka Babymoon. Malah dalam rangka ngerayain ultah suami yang sudah direncanakan dari Juli tahun 2017 lalu (dari tiket pesawat, transportasi dan hotel sudah ready semua). Akhirnya kita mutusin buat konsul dulu apakah harus cancel atau tetap berangkat. Alhamdulillah kata Bidan Rina nggak apa apa karena janinnya sudah memasuki bulan ke 3 dan InsyaAllah aman selama saya ga kecapekan dan slalu makan minum teratur.

Mungkin karena saya benar benar menikmati kehamilan yang saya tunggu bertahun tahun ini,  akhirnya trimester pertama ini kami jalani dengan baik tanpa drama berarti. Bayi yang kooperatif dengan segala sugesti positif yang saya berikan juga dukungan suami dan keluarga yang luar biasa menciptakan suasana kehamilan yang nyaman. Ga sabar menghadapi trimester 2 dan mulai merasakan tendangan halusnya ❤.

Advertisements

Catatan Dini tentang si Buah Hati (Part 2)

Seperti yang saya tulis dipostingan sebelumnya (Catatan Dini tentang si Buah Hati Part 1):
Sampai saat dimana kami berhenti bertanya dan ikhlas, keajaiban itu datang”

Tapppppiiiiiii tentu saja tak hanya bermodalkan “berhenti bertanya dan ikhlas” Allah memberikan amanah yang selama ini AMAT SANGAT kami inginkan yaitu hadirnya sang buah hati didalam keluarga ini. Dua hal itu adalah akhir dari segala “perjuangan” yang kami lakukan selama 6 bulan terakhir. Ya,  Kali ini saya akan menceritakan proses dan cara saya bertemu dengan keajaiban itu

Dari awal pernikahan kami tak pernah benar benar serius ikut program kehamilan. Istilahnya let it flow aja alias ga mau ngoyo. Beberapa bulan pertama kami hanya menikmati “pacaran” setelah menikah. Ngalor ngidul kesana kemari layaknya orang kasmaran. Sampai saat dimana kami sendiri sudah merasa bosan hidup berdua saja. Apalagi ditambah pertanyaan “kapan hamil? ” yang menghantui pagi-siang-malam

Akhirnya dalam bulan-bulan selanjutnya kami mencoba beberapa kali program ke dokter kandungan. Itupun hanya dicek, diberi vitamin,  dan dihitungkan masa suburnya. Menurut hasil penerawangan dokter, rahim saya subur dan ga bermasalah, begitupun suami. Masalah kami cuma 1 yaitu CAPEK. Saya memang kebetulan lagi fokus banget sama kerjaan, rapat dan ikut training yang difasilitasi kantor, begitupula suami yang bahkan sering masuk malam (23.00-07.00) karena menjadi Night Audit

Tibalah saat suami berencana akan pindah kerja dari Banjarbaru ke Malang dan itu artinya sayapun harus melepas pekerjaan kesekretariatan dikantor. Akhirnya tinggallah kami dikota yang dulu mempertemukan kami saat kuliah ini. Kami berdua sepakat bahwa sebaiknya saya “istirahat sejenak” dari pekerjaan kantor agar saya ga kecapekan dan fokus untuk memiliki anak

10 bulan berjalan setelah pindah ke Malang (pernikahan sudah memasuki tahun ke-3) dan tanda kehamilan pun belum muncul juga. To be honest, kami memang ga ada program hamil lagi secara khusus kedokter manapun dan cuma sibuk liburan kesana kemari karena sepakat untuk menjalankan program “bahagia” saja. Tapi ternyata usaha itupun masih kurang

Alhamdulillah, secara rutin mama dan babe mengunjungi kami di Malang. Sayapun kadang lupa akan kesedihan itu karena sibuk diajakin jalan jalan. Hingga pada suatu ketika saat mau pulang ke Banjarbaru, di Bandara Juanda mama bertemu dengan seorang Ibu yg bercerita tentang anaknya yang baru saja melahirkan setelah bertahun lamanya belum diberi keturunan. Lantas mama bertanya rahasianya dan Ibu itupun menjawab kalau anak dan menantunya rutin SETIAP HARI makan buah SEMANGKA!

Mulailah semenjak bulan Juni 2017 saya dan suami rutin makan buah semangka demi kesuburan. Padahal nih buah semangka itu one of my unfavorite fruit! Ga suka sama sekali. Tapi demi si buah hati apapun saya lakuin. Kadang setengah buah habis sehari,  kalo lagi enek dapat makan seperempat pun Alhamdulillah. Intinya mah rutin makan tiap hari

3 bulan sudah kami rutin mengkonsumsi buah semangka dan tetap sibuk menjalankan program “bahagia” alias staycation disana sini. Selain itu kami berdua juga rutin ngegym di pusat kebugaran hampir setiap hari selama 2 jam. Intinya olahraga juga, ya.  Apapun itu. Mau senam kek, yoga kek, jogging rutin kek, pokoknya olahraga biar bugar

Sampai tanggal 28 Agustus 2017, DM alias Direct Message Instagram saya kedatangan pesan dari Ida, teman kos sekaligus adik tingkat saat kuliah. Ida cerita dia sedang hamil 10 minggu setelah sempat “kosong” juga beberapa bulan. Jadi pas Ida liburan di rumah keluarganya di Malang mereka memanggil tukang pijat dan sama tukang pijatnya ditanya sudah punya anak atau belum? akhirnya tanpa banyak berharap keduanya dipijat yang difokuskan dibagian kaki. Tak lama berselang setelah itu, Ida hamil yeaay

Tappiiiiii  jangan ambil takhayul karena siapa atau karena apa, ya. Tentu saja karena semua sudah takdir dan rezeki dari Allah semata. Teman atau orang lain hanya perantara-Nya saja. Semuanya sudah diatur dijalannya masing-masing

Akhirnya Ida memberi nomor Pak Saleh (Tukang Pijat) itu pada saya dan awal bulan September 2017 saya dan suami mendatangi rumah beliau disekitar Bandara Abd. Saleh Malang. Saya pun bercerita kalau Ida sudah hamil dan beliau senang sekali mendengarnya. Ternyata selain Ida banyak pasutri yang juga pijat ke beliau dan dengan izin Allah beberapa berhasil punya momongan. 1 jam lamanya kami ngobrol dengan beliau dan akhirnya yakin kalau beliau memang punya “ilmu”nya, ga asal pijat saja. Oh iya Pak Saleh ini paruh baya, tapi sehat sekali. Istrinya juga baik dan selalu mendoakan kami disepanjang obrolan

Akhirnya suami saya diperiksa diarea kaki dan… memang ada yang bermasalah. Jadi kata beliau dititik yang harusnya sakit saat ditekan,  suami saya ga merasa sakit sama sekali. Titik itu ada hubungannya dengan kesuburan. Akhirnya suami saya ‘dibetulkan uratnya’ dan Alhamdulillah dititik itu akhirnya suami saya merasakan sakit juga hehe. Sayapun diperiksa ditelapak kaki dan sekitar pinggang untuk mengecek kesuburan, Alhamdulillah ga ada masalah. Oya,  saat pijat dilakukan kami berpakaian lengkap loh. Semuanya dalam pengawasan suami saya. So, saya ngerasa aman sekali. Dari awal beliau pegang telapak kaki saya jg sudah minta maaf dan minta izin karena Pak Saleh sempat bercerita kalau beliau amat menghormati perempuan sama seperti beliau menghormati ibunya

Akhirnya, saya dan suami pulang kerumah dengan perasaan optimis luar biasa. Bahkan saya lebih optimis setelah ketemu beliau ini daripada ketemu dokter. Alhamdulillah semenjak saat itu saya tersugesti positif kalau sebentar lagi akan hamil. Saya juga mulai belajar cara menghitung masa subur dari siklus haid.

Bulan berikutnya (Oktober) saya kembali haid setelah harap harap cemas karena sempat telat selama 8 hari. Mama saya bilang mungkin aja -kalau istilah orang Banjar- “membasuh peranakan”/ membasuh rahim sebelum beneran hamil. Saya dan suami entah kenapa juga biasa biasa aja. Ga baper. Ga juga sedih. Intinya habis usaha olahraga, makan semangka, dan pijat itu kami berdua selalu berfikiran positif. Kami juga berhenti nanya “kapan” ke Allah dan ikhlas dengan apapun rencanaNya. Malah waktu haid itu saya lagi sibuk sibuknya mempersiapkan diri untuk ikut tes CPNS di Surabaya

Dan entah kenapa pas tes CPNS itu saya duduk sebelahan sama Mbak -entah siapa namanya- yang juga belum punya anak selama 2 tahun pernikahan. Dia cerita kalau ngikutin postingan Dr. Yudhistya SpOG di Facebook karena beliau suka kasih tips buat orang yg lagi promil. Sayapun akhirnya follow Facebook beliau dan dikolom komentar saya membaca banyak yang promil dengan meminum vitamin FOLAVIT/ asam folat dimalam hari dan Vitamin E dipagi hari

Bismillah sayapun mencoba berikhtiar beli vitamin tersebut diapotik dan dari akhir Oktober rutin meminumnya pagi-malam. Sampailah dibulan November bulan kelahiran saya.  Saya yang biasanya minta liburan atau dibeliin ini itu malah bilang kesuami ga mau dikasih surprise apapun (Yah walaupun akhirnya dikasi Romantic Dinner juga di pool sidenya Ubud Cottages Malang) dan bilang cuma mau dikasih kado ANAK. Hehe tapi ini ga pakai nada ancaman kok. Suwer tekewer kewer

Akhir November 2017 saya bertolak ke Banjarbaru buat ngehadirin akad dan resepsi my one and only sister,  Iza, tanggal 3 Desember 2017. Pas hari H saya termasuk seksi acara yang super sibuk ngatur lalu lintas foto keluarga dan kerabat serta mondar mandir ngurusin makan pengantin, orang tua, dan besan diatas panggung pelaminan.

Alhamdulillah beberapa rekan kerja di perusahaan dulu nyempatin datang. Saya pun tukar cerita sama Ka Ayu yang menyarankan saya buat follow akun Instagram (@bawonosuryo) Dr Suryo Bawono SpOG. Setelah saya mengintip IG nya saya makin termotivasi untuk segera hamil. Tau gak apa isinya? Disetiap postingannya, beliau selalu membeberkan cerita keajaiban dari Pasutri setelah mengamalkan QS. MARYAM AYAT 1-11. Mengapa ayat 1-11? Saya dan suamipun akhirnya membuka AlQuran terjemahan dan menangis seketika saat membaca maknanya. Betapa Allah Maha Besarnya menjadikan hal yang mustahil menjadi mungkin bagiNya. Kamipun mulai mengamalkannya setelah selesai sholat dan semakin yakin bahwa Allah akan segera mengijabah doa kami.

12 hari sudah saya terlambat menstruasi dan tidak seperti biasanya Umi (mertua saya) keukeuh bgt nyuruh saya beli testpack karena entah kenapa kali ini katanya beliau yakin kalau saya hamil. Hampir tiap saat beliau mengirim pesan WA dan minta saya segera tes begitu tau saya terlambat haid padahal biasanya saya telat 30 hari beliau biasa saja😁. Bahkan Mama yang biasanya enjoy the show pun menanyakan hal yang sama.  Saya pun bingung menghadapi euforia seperti ini.

Saya bukannya ga punya testpack,  malah saya punya 2 buah alat tes kehamilan yang saya bawa dari Banjarbaru dan ga pernah terpakai selama setahunan ini di Malang. Karena you know lah saya testpackphobia. Disatu sisi saya penasaran,  disisi lain saya takut. Beneran takut. Akhirnya saya sama suami sepakat buat memakai benda keramat itu lusa tanggal 11 Desember 2017 (tepat dihari ke-14 telat haid)

10 Desember 2017, saya sudah mulai gelisah sendiri dirumah sementara suami masih kerja dikantor. Saya takut hasil testpack besok ga sesuai lagi. Saya takut suami akan sedih. Saya lebih takut mama dan Umi akan kecewa. Saya sendiri merasa biasa biasa aja secara fisik dan mental. Tanda tanda kehamilan seperti mual dan muntah juga nggak ada. Saya semakin takut

Akhirnya jam 11.30 siang saya memberanikan diri mengambil tespack dari laci dan membawanya kekamar mandi. Saya sudah ikhlas jika harus melihat 1 garis merah sekali lagi setelah sekian lama. Yang penting saya tidak melihat itu bersama suami.  Cukup saya saja yang sedih, dia jangan

Sayapun memejamkan mata perlahan, seiring alunan Adzan Dzuhur yang mulai terdengar saya membuka mata dan garis merah yang belum pernah saya lihat sebelumnya itu bertambah jelas… makin jelas… dan terang benderang. Saya menangis histeris seakan ga percaya dengan penglihatan saya. 2 garis merah itu nyata adanya dan untuk pertama kalinya saya muntah. Ya,  bayi ini ingin mengatakan dia benar benar ada…

So we have to believe that everything happens for a reason
. Kita bertemu dan bertukar cerita dengan orang lain pun pasti sudah ditakdirkan olehNya. Alhamdulillah semua yang terjadi dari bulan Juni 2017 lalu membawa keajaiban didalam kehidupan kami. Bayi ini hadir ditengah tengah sebagai kado saya di Bulan November dan kado suami di Bulan Januari. Maha Besar Allah

Saya berterimakasih dengan sangat pada semua orang yang saya sebutkan diatas karena telah menjadi perantara saya bertemu dengan keajaiban ini tanpa mereka sadari. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan keajaiban yang lebih besar dan mengabulkan doa baik kalian

Untuk yang sedang menanti,  semoga sharing saya ini ada manfaatnya dan bisa memberikan ide dalam program hamilnya. Tapi ingat, tidak semua kasus sama. Hal pertama yang harus dilakukan tentu saja memeriksakan diri dan pasangan ke dokter serta menjalani penanganan jika sekiranya status gawat atau siaga. Ingatlah selalu bahwa Allah akan memberikan hadiah berupa amanah ini selalu diwaktu yang tepat bagiNya. Saya hanya bisa mendoakan semoga semua doa segera diijabah Allah dan keajaiban itu akan datang dalam kehidupan kalian. Aamiin

PS: Siapapun yang perlu no. Hp Pak Saleh bisa menghubungi saya secara pribadi melalui DM/PM

Catatan Dini tentang si Buah Hati (Part 1)

​If everything has been written down, so why worry?

(Kalau segalanya sudah ditakdirkan,  mengapa harus khawatir?)

Kalimat ini yang saya tulis sekitar 6 bulan yang lalu pada Bio Instagram saya. Ya, saya pun hanya manusia biasa yang ditengah tengah kesabaran saya terkadang bertanya

Ya Allah kenapa doa saya belum dikabulkan juga? ” 

sampai akhirnya saya sendiri lelah dan akhirnya berusaha memaklumi keadaan yang pasti sudah ditakdirkan ini. Mengikhlaskan segalanya karena menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya, hidup mereka, hidup kita, adalah ketentuan Allah. Semua milik Allah tak terkecuali.

3 Tahun 6 Bulan pernikahan dan kami selalu dihantui pertanyaan yang sama:

“Sudah punya anak belum?”

Pertanyaan singkat yg kami tidak tahu apakah dilontarkan karena memang ingin tahu, simpati, atau untuk memuaskan rasa penasaran saja?
Pertanyaan “numpang lewat” yang hadir tidak sampai hitungan menit tapi bisa membuat kami sedih dalam hitungan jam bahkan hitungan hari. Mungkin bukan saya saja korbannya,  satu dua pasangan diluar sana juga pasti pernah mengalami dan merasakan efek pahit dari pertanyaan itu.  Apalagi jika pertanyaan momok itu datang dari kerabat dekat ataupun teman yang sudah follow-followback dgn kita diberbagai sosial media dan seakan bertanya hanya karena penasaran saja. Entahlah. Wallahu Alam.

Kadang saya sekali dua komen foto atau video anak temen saya yg lucu menggemaskan di Facebook dan Instagram, tapi feedback yang saya dapat tak ayal terkadang membuat hati saya sakit dibuatnya.
Loh kamu ga hamil juga? Udah lama kan nikahnya? “

Kamu belum isi,  Din?  Kan duluan kamu nikahnya daripada aku”

“Perasaan liburan melulu kapan punya anaknya?”

“Kamu sama suami lebih mentingin karir ya daripada anak? “

Ayo,  kapan kamu punya “mainan” kaya gini?”

Saya ingin sekali berteriak bahwa INI BUKAN MAU SAYA! Bagaimana bisa saya mengatur rezeki sementara saya bukan Maha Mengatur Rezeki?  Bagaimana bisa saya tahu kapan pastinya sementara saya bukan Maha Mengetahui? Pasangan mana yang tidak mau mendapatkan keturunan? Pasangan mana yang mau menghabiskan hidup berdua dalam kesepian?

Menyangkut hal ini mungkin saya yang terlalu baper. Makanya jawaban saya pun standar seperti “minta doanya aja ya”. Hingga akhirnya saya mencapai titik males komen apapun disana sini. Saya takut ditanya lagi. Takut akan sakit hati lagi. Tapi kalau dipikir ulang,  buat apa kita selalu memikirkan omongan orang lain? Atau memiliki sesuatu hanya untuk memuaskan pertanyaan mereka?  Buat apa sabar kita kalau kita tak mampu bersyukur atas hal hal yang TELAH kita miliki? Jika saya berfikir lebih lanjut lagi, mungkin saking sayangnya sama saya, jadi harapan dan doa mereka terpapar dalam pertanyaan tersebut.

Kami sebenarnya sudah sangat bahagia. Bagaimana tidak, Allah memberi apa yg kami inginkan dalam waktu singkat saja. Pekerjaan yang baik dan kesempatan menyalurkan hobi kami liburan kesana sini. Bahkan April 2017 kemarin Alhamdulillah kami sekeluarga bisa berangkat umroh, sebuah perjalanan batin yg saya impikan dari dulu. Saya ingat bagaimana saya berdoa dengan sangat agar Allah mengabulkan doa perihal amanah yang ingin sekali saya miliki, yaitu keturunan yg sholeh/ sholehah. Saya tahu kita tak dapat memaksakan kehendak karena anak adalah hak prerogatif Allah. Ya, kadang Allah menguji kesabaran dan keikhlasan kita melalui hal hal yang paling kita inginkan, bukan?  Tentu saja untuk menguji seberapa kuat ikhtiar,  doa dan tawakkal kita.
Saya tahu banyak diluar sana pasangan yang bahkan puluhan tahun menjalani hidup tanpa adanya keturunan. Saya tahu cobaan kami ini hanya seujung kuku dari cobaan mereka. Tapi saya juga tak bisa menahan rindu untuk merasakan sensasi hamil itu sendiri, melahirkannya dengan segenap cinta,  menimang anak kami sendiri,  menyentuh jari jemarinya, melihat dia lebih mirip siapa,  saya atau suami atau keduanya?
Tak terhitung airmata sedih saya setiap bulan saat hasil tes kehamilan hanya memperlihatkan satu garis merah alias NEGATIF!!!
Tak terbayang mata saya melihat wajah kecewa suami yg terbalut senyuman dan berkata ” Gak apa-apa, sayang. Ga usah sedih” karena dia tahu hati saya jauh lebih hancur melihat hasil tes tersebut. Dia yang juga sedih harus melebur lebih cepat dalam kesedihan itu untuk menghibur saya yang hatinya sedang kacau balau.

Karena itulah saya sendiri bertekad jika suatu saat saya hamil saya tidak akan pernah langsung mengupload hasil tespack dua garis seperti trend ibu-ibu muda zaman now begitu tahu dirinya hamil. Saya tahu rasanya dan saya tak akan mau membuat wanita lain sama sakitnya seperti yg pernah saya rasakan selama ini

Ya, tespack adalah musuh besar saya selama satu tahun terakhir. Saya menganggapnya sebagai momok menakutkan kedua yang bisa menghancurkan harapan saya tentang kemungkinan hamil dibulan itu. Ya, sepedih itu rasanya ditanya tentang kehamilan, melihat hasil tes negatif diri sendiri dan melihat hasil tes positif teman. Ya,  sesedih itu….

Ada waktu dimana saya terlambat haid 1-3 minggu, lalu saya sudah membayangkan anak ini telah ada. Telah sampai waktunya. Faktanya saat saya nekat ke dokter SPOG dan melakukan USG, saya harus kecewa kembali. Bahkan tanda tanda penebalan rahim dan kantong janin pun belum terlihat. Pil pahit harus kami telan kembali

Ya, kami harus bersabar lagi.

Kadang saya heran mendengar kisah beberapa orang yang mengeluh terlalu cepat memiliki anak serta harus meninggalkan karirnya. Ada juga yang mengeluh karena harus melewati fase mual-muntah-sakit selama hamilnya. Juga beberapa yang bilang anaknya bikin repot sampai dia dan suaminya tak sempat liburan dan “me time“. Akhirnya saya tahu kenapa saya harus mengalami ini, yaitu untuk membuat saya bersyukur saat nanti diizinkan Allah untuk hamil. Saya tidak akan seperti mereka yang resah karena karir yang harus kandas atau menderita karena proses kehamilan itu sendiri karena SAYA BAHAGIA dan menanti lama untuk merasakan semua itu.

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari keheranan akan keluhan beberapa orang tentang anak dari perasaan lelah karena mengandungnya, merawatnya,  ataupun meninggalkan karir demi anak. Karena sesungguhnya perasaan menunggu keajaiban itu jauh lebih menyedihkan sebab saya sendiri yg mengalaminya. Ya, memang betul, ujian setiap orang itu berbeda beda. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Untungnya saya memiliki support system terbaik didunia yaitu keluarga yang tetap percaya akan keajaiban Allah. Tak pernah menanyakan tak juga memaksa. Bahkan mereka selalu percaya saya bisa hamil dengan “normal” saat saya hampir menyerah dan mengatakan tentang kemungkinan “inseminasi dan bayi tabung”. Mama dan Babe yang sudah punya nama panggilan Omi dan Opi jikalau saya memberikan cucu harus bersabar sejak nama itu tercetus bulan Mei 2014. Ya,  sejak awal pernikahan saya. Mereka harus bersabar sedikit lebih lama.

Berkali kali ikhtiar,  berulang kali gagal. Berkali kali berdoa, tapi belum dikabulkan. Berkali kali tawakkal, berulang kali menyerah. Ya,  semua kami rasakan. Semua kami alami. Perasaan tak menentu saat terlalu menginginkan sesuatu tapi belum juga di-ACC Allah.

Sampai saat dimana kami berhenti bertanya dan ikhlas, keajaiban itu datang. Semua terasa bagai mimpi tanggal 10 desember 2017 lalu saat saya melihat dua garis merah tertera dialat tes kehamilan pada siang hari itu. Saya bahkan tak tahu harus berekspresi seperti apa selain menangis dan sujud syukur dalam waktu yang lama. Perasaan bahagia membuncah tak terbendung dari hati yg terdalam. Ternyata begini rasanya melihat dua garis itu, batin saya. Akhirnya Ya Allah. Akhirnya inilah saatnya.

Perlahan saya mulai memahami alasan kenapa setiap wanita yg hamil seolah tak sabar memberitahu kabar ini kesemua orang. Ya,  karena mereka sendiri tak sanggup menahan rasa bahagia ini sendirian. Rasa bahagia yang bahkan tak dapat tersampaikan dalam kata perkata. Rasa syukur akan anugerah terindah yang tak pernah dapat kita prediksi kapan akan diberikan oleh Allah.

Saya dan semua orang yang pernah menunggu lama pasti merasakan bagaimana nikmatnya rasa sabar terganti dengan rasa syukur yang tak terbatas. Semua airmata dalam doa yang bahkan dilakukan diam diam terbayar lunas.

Untuk mereka yang masih menunggu, percayalah Allah akan memberikan anugerah ini diwaktu yang TEPAT. Bahkan kita sendiri takkan menyadari “INILAH SAATNYA”. Teruslah ikhtiar, berdoa, dan tawakkal tanpa henti. Ikhlaskan semuanya dan berikan sugesti positif pada diri sendiri. Jangan pernah berhenti walau selelah apapun hati menunggu hari demi hari. Percayalah suatu hari semua hal berat yang pernah kita jalani akan menjadi cerita dan pengalaman tak terganti. Kita dapat mengambil hikmah dari lamanya menanti. Kita akan selalu bersyukur karena ujian ini adalah salah satu dari cara Allah menyayangi. Dari sabarlah terbit syukur yang tiada henti. Semoga Allah mengijabah doa-doa baik dari hati yang suci.  Aamiin.

Jika awan gelap datang,  maka berlindunglah dari hujan

Jika badai menerpa, maka berlindunglah dari pusaran yang mematikan

Jika hatimu gundah gulana,  maka berlindunglah dengan do’a 

Jika ujianmu melebihi doa, maka bersabarlah 

Saat Allah mengabulkan pintamu,  maka bersyukurlah

PS: Lanjutkan membaca Catatan Dini tentang si Buah Hati Part 2 tentang tips program hamil dari saya. Terimakasih

Staycation at Beejay Bakau Resort

Beejay Bakau Resort recently known as BJBR is located in Pelabuhan Perikanan Pantai Mayangan, Probolinggo. We have to drive about 3 hours from Malang (with some of traffics).

Awalnya tau BJBR dari media sosial, penasaran dong ini tempat kok bagus banget di Probolinggo. Kebetulan Pak Cumami juga minggu depan lagi Ulang Tanggal Lahir 26 Januari, pas banget buat staycation, nih! (Yagitudeh, yang ultah siapa, yang excited siapa hihihi)

Searching di internet tentang BJBR makin penasaran. Selain karena BJBR punya beberapa spot foto yang instagrammable, bungalownya juga oke punya buat yang mau staycation. Ada tipe Executive, Junior Suite, dan Family Suite. Tergantung you mau nginep diantara hutan bakau, ngadep laut, atau bawa keluarga besar. Kami pilih executive karna mau bungalow yang adem aja diantara bakau.

Aaaaaand here we go, tanggal 25 Januari 2016 kami cusss BJBR. Urutan cuaca dari Malang – Probolinggo: Hujan – Panas – Panas – Hujan. Hujan yang terakhir super banget lebatnya. Mungkin karena BJBR daerah pelabuhan yes jadinya debit air hujan cukup tinggi. Sampai disana jam 4 sore, hujan lebat, untung securitynya tanggap ngasih payung besar buat menyusuri jalur hutan bakau dari pintu masuk ke Reception Area. 

Alhamdulillah, nemu Reception Area itu udah kaya nemu oase di Padang Pasir. Lega, bro. Maklum jalur tempuh hutan bakaunya lumayan panjang juga. Mungkin kalo ga hujan sebenarnya asik aja kali ya bisa stop sebentar sambil cekrek cekrek ala ala. 

Di reception, kami diminta pilih menu buat sarapan pagi besok, setelah itu baru diantar ke kamar Executive 1 alias Kakap Putih (sesuai request kami) yang terasnya menghadap belakang.

Beyond our expectation, bungalownya selain luas juga unik banget. Untuk ukuran bungalow ditempat terpencil dengan rate standard, it is just A WOW! Bathroom? Checked. Room Facilities? Checked. Bedroom? Checked. View? Checked. BJBR was no longer wow-ing me! Ga lama room service datang bawain snack sore: siomay goreng+teh hangat. Sayang, niat buat eksplor BJBR mesti ketunda gegara masih hujan lebat.

Sehabis maghrib perut udah krucuk krucuk aja minta diisi. Pergilah Cumami dan Cumistri ke area restaurant yang dinamai “REST-O-TENT” alias kafe tenda dipinggir laut. Pengunjungnya termasuk sedikit malam itu. Mungkin karena hujan, mungkin karena mahal (I often read complaint about this on social media). Kami pesan terong balado dan cumi cabe kering. Sehabis makan kami jalan kaki sebentar menyusuri bycycle track. Ngebakar kalori yes hihihi.

Keesokan paginya kamar udah diketok aje sama mas-mas room service nganter makan ala carte : Nasi, Mie, Omelette, Siomay, Buah Potong, dan Jus Melon. Nikmatinnya ga afdol kalo ga diteras belakang sambil liat pemandangan seputar bakau dan pantai.

Senengnya di BJBR ini buat tamu bungalow itu free all entrance and facilities kayak sewa sepeda, tiket masuk MBB (Majengan Bakau Beach) buat nikmatin semua wahana air, and enjoy all the spots kecuali tiket susur laut haruzs bayar Rp. 15.000,-. (FYI, bisa kok ke BJBR tanpa nginep alias cekrek cekrek doang asal bayar sesuai tarif weekday/ weekend)

Total Review: 8,5 out of 10 for comfort, service, location, and facilities.

Will we come to take staycation AGAIN at BJBR? YES! 

#ExploreJogja: A Birthday Gift

It was supported by Husband’s idea to give this unforgettable journey as my birthday gift on November 23rd, 2016

Since he told me about this special gift, I was soo excited to prepare all the things that we need! Dari persiapan tiket kereta api (Alhamdulillah kami dapat tiket dengan harga promo!), penginapan (We stayed 2 nights at The Wayang Homestay nearby Alun Alun and Taman Sari), transportation (kami pilih sewa motor di fRent Rental daripada sewa mobil dgn pertimbangan macet dan ribet), and itinerary (ini yang rada njelimet. Maklum, udah lama ga ke Jogja dan tau banget sekarang banyak wisata kekinian yang instagrammable disana. Opsi ‘where to go’ nya nambah. Sedangkan cuti Cumami segitu adanya hehe)

So, kita mutusin buat berangkat tanggal 22 Nopember pukul 20.15. Sampai Yogya dperkirakan sekitar jam 4 subuh. Drama motor manja terjadi lagi sekelebat kilat dalam perjalanan menuju stasiun Malang. Untung doi ngambeknya ga lama, jadi bisa terus meluncur kesana. Habis titip motor, Kami langsung print out tiket di mesin cetak mandiri dan langsung check in. 5 menit kemudian KA Malioboro Ekspressnya dateng. Senangnyaa ga ketinggalan kereta!

image

image

Alhamdulillah juga gerbong 3 lumayan sepi. Alhasil 4 bangku kami kuasain berdua hehe. Setelah haha hihi ngemal ngemil, kami mutusin buat nyoba tidur syantik (walaupun akhirnya gagal juga). Iseng saya buka facebook jam 12 malam ternyata Mama Babe sama Iza udah ngunggah video ucapan selamat ulang tahun. Waahh terharu dan rindu jadi satu. Maklum selama ini saya ga pernah pisah lama sama orang tua, kecuali pas kuliah doang di Malang. Sekarang mesti bisa hidup mandiri sama Cumami. Cumami juga bikin puisi super romantis dan unggah video via Instagram padahal dikirain lagi tidur. Alhamdulillah banyak yang sayang sama saya. Terima kasih buat semua keluarga dan sahabat yang meluangkan waktu buat kirim doa untuk saya via media sosial manapun. I really appreciate it.

image

Akhirnya jam 4 subuh teng sampailah di Stasiun Yogya. Ternyata lintasan rel di stasiunnya indoor, bersih pula ruang tunggunya. Kami langsung sholat di mushollanya dan leyeh-leyeh bentar di area stasiun. Kebayang kan 7 jam ga bobo? Luar biasaaa nguantuknyaaa.

image

Akhirnya kami mutusin buat makan di Soto Lenthok Pak Gareng. Dari stasiun jalan kaki sekitar 15 menitan. Deket kok sama Malioboro. Lenthok ini bahan dasarnya singkong dibentuk bulat terus digoreng. Enak!

image

Jam 7 tepat motor sewaannya tiba, kita langsung cuss ke homestay, sayangnya ga bisa early check in karena tamu sebelumnya belum check out. Padahal free of charge loh early c/i disana. Alhamdulillah kita boleh istirahat disitu aja, free of taking tea/coffee, dan dikasi info tempat wisata yg lagi happening di Yogya. Pokoknya Mas Jack and team are sooo helpful.

Setelah bobo ala ala di mini cafenya kami mutusin buat jalan jalan sebentar ke Taman Sari yang kebetulan deket sama Homestay. Disana kami hampir kena jebakan Batman Tour Guide yang awalnya kami kira official staff. Untung bisa kabur hehe. Oh, ya lokasi peninggalan di Taman Sari ini kepisah-pisah lho. Lumayan juga jarak antara Pemandian sama Masjid Bawah Tanahnya

image

image

image

Jam 2 siang kami kembali ke homestay karena udah beneran TEPAR. Jam 5 sore baru mulai jalan lagi. Next stop ke Museum de Mata dan de Arca. Kenapaaa? Karena hari ini saya ulang tahun dan konon katanya free bagi yang lagi ultah! Horeee lalala yeyeyeeee! Cuma Cumami yang bayar. Yaa siapa suruh ga ultah juga yeekaaan hehe. Kalau datang malam gini enaknya ga antri serasa milik pribadi.
Ps: coba buat cerita dari rangkaian gambar ini hehe

image

image

image

image

image

Day 2:
Habis sarapan di Homestay kami lanjut eksplor daerah Mangunan yaitu Puncak Becici yang best spotnya ala ala Kalibiru juga. Enaknya disana masih baru, ga antri dan ga perlu bayar buat foto. Bedanya ama kalibiru cuma latarnya aja. Kalibiru kan identik dengan waduk sermonya

image

image

image

Sebelum lanjut ke Pantai Parang Kusumo yang masih sodara sepupu sama Pantai Parang Tritis, kami ngeSate Klathak dulu. Itu looh yang ada di film AADC 2, sate pakai jeruji sepeda (katanya biar panasnya merata sampai kedalam) sayang Sate Klathak Pak Barinya tutup, kami beralih ke Sate Klathak Pak Pong deh.

image

image

image

Oh ya, sebelah Parang Kusumo ada Gardu Action lho semacam Camp ditepi pantai. Disana property foto dibuat dari barang bekas. Nemunya ga sengaja pas mau pulang jadi fotonya alakadarnya.

image

Karena hujan, kami pulang ke homestay dulu, baru njajal kuliner di Warung Makan Pak Pele sebelah Keraton seberang Alun Alun. This is HIGHLY RECOMMENDED. Petjah banget rasanya endeuss pool apalagi nasi gorengnya beuhh.

image

Day3:
Sedih banget karena ini adalah hari terakhir. Paginya kami udah jelajah Jogja buat cari lokasi Gudeg Mbah Lindu Sosrowijayan. Lokasinya emang cuma di depan pos ronda, tapi rasanya jangan ditanya 5* lah. Beliau sudah 97 tahun tapi masih cekatan dan responnya cepat saat ditanya. Bener kali ya, kalau kerja sesuai passion, hati senang tubuh juga ga gampang sakit. Kelihatan diraut wajah beliau saat ditanya sudah berapa lama jualan disana. Seriously you guys should try this Gudeg. Rasakan ‘Jogja’nya sambil makan disana, ya?

image

Habis makan Gudeg cuss ke Pabrik Bakpia 25. Ngelihat proses pembuatannya lucu juga.

image

Setelah selesai packing dan titip koper waktu check out, kami langsung menuju Keraton Jogja. Untuk benda peninggalannya sekarang dilestarikan dan diberi rantai pembatas. Kadang kami iseng ngikutin tourist yang nyewa tour guide. Mayan jadi tau sejarahnya gratisan hihi. Kerasa banget backpackernya kali ini. Disini juga mesti hati hati lho, tukang becak sering bokis. Bilangnya museum kereta jauh dari keraton padahal 100 langkah aja ga nyampe, kami ngelihat ibu ibu naik becak sampai kaget banget waktu tau ternyata “sudah sampai” ditujuan yang awalnya dibilang “Jauuhhhhh”. Mudahnya you should ask the official staff at ticketing area. Jangan mudah ditipu dibujuk rayu apalagi ditikung temen sendiri. Sakitnya dihati #lho #eh

image

image

image

Next stop: Prambanan, candi cantik khas Yogyakarta. Satu aja sih yang bikin ga nyaman; jalan kakinya juuuaaauuhh benerrr bolak balik. Muterin komplek candi ditambah hujan ga berenti.

image

image

Malam harinya sebelum kembali ke Stasiun Yogya, kami sempetin foto di Tugu dan The Legendary Malioboro Street. Bener kata orang, kalau sekali ke Yogya bakal berasa ga mau perginya. Kata Cumami kalau balik lagi maunya staycation di hotel keren, ngeMall, ngeAngkringan dan lebih nikmatin malioboro biar berasa “gue lagi di Yogya” nya. Finally thank you to be part of our journey. Sudah menyempatkan membaca blog ini. Tons of hugs.

image

image

Milad Umi dan Drama Motor Manja

Sejak kami stay di Malang, sebenarnya udah lama pengen main ke Rumah Umi di Kampung Arab Pamekasan. Baru tanggal 19 Oktober 2016 kemarin terealisasi dan kebetulan di hari itu Umi lagi ulang tahun. Sekalian deh ngrencanain kejutan, jadi ga bilang bilang mau kesana.

3 hari sebelumnya kami dikabari kalau Umi baru aja sembuh dari sakit dan udah bisa jalan lagi walaupun sempet pakai tongkat beroda. Alhamdulillah seneng denger Umi sehat dan bisa ceria lagi.

Kami berangkat pukul 08.15 pagi dari Malang dan you know lah betapa dinginnya panasnya Surabaya, Suramadu, dan Madura. Sepanjang 5 jam diperjalanan udah berasa dipanggang matahari. Perasaan dulu touring kesana itu ga pegel pegel amat ga capek capek amat. Apa sekarang tulang-tulang ditubuh saya dan suami… sudah setua itu? Huaaa..TIDAAKKKKK!!!

Sampailah di Pamekasan daaaan Uminya kaget beneran kan kedatangan anak jauh hehe. Malamnya kami berdua ngajakin Sofiyah dan Abu Bakar muter-muter cari birthday cake.

Pas kami dateng Umi lagi tidur, eeh kok beberapa saat kemudian kebangun. Susah banget jadinya settle up ruang tengah buat kasih kejutan. Mana Uminya ngajakin foto-foto dulu.

image

Tapiii ada untungnya juga jadinya bisa pura2 alasan bluetooth foto ke kamar dulu. Terus pas udah siap Uminya dipanggil deh pura pura diajak foto lagi daaaaan Taraaaa… berkaca-kaca Umi jadinyaa! Kami semua berharap dan berdoa semoga umi sehat terus happy terus yaaa. Biar bisa jalan bareng lagi.

image

image

Besoknya Umi masak besar deh dari nasi uduk, sate ayam, telur, perkedel daging ajiiib pokoknya. Bikin ketagihan!

image

Sore harinya kami ngrencanain buat jalan-jalan ke tempat nongkrong baru namanya Asela (artinya bersila) yang konon katanya instagramable banget karena letaknya di atas laut gitu.

Teng! Jam 3 sore sudah mulai siap siap bahkan Umi rela tutup toko yang laris manis dari subuh itu demi jalan jalan bareng. Jam 4 kami; Umi, Suami, Saya, Ka Zizah, Sofiyah, Ali dan Abu Bakar berangkat menuju Warung Makan Asela di Sampang (sayangnya Abdullah, Bang Yusuf dan Mbak Ririn ga bisa ikut. Next time harus ikut semua kalau jadi ke Gili Labak yaaa).

This is it!

image

image

image

Pulang dari Asela sekitar jam 7 malam Umi ngajakin ke Api Tak Kunjung Padam. Udah kali kedua sih kesana dan amat menyayangkan juga tempatnya masih gitu-gitu aja belum ada inovasi apapun. Meskipun cuma lihat Api, tapi lucu juga sih ngbayangin api itu tetap nyala bahkan habis hujan. Katanya karna ada gas alam dilapisan tanahnya. Keren ya?

image

image

image

Pokoknya kalau kesana yah jangan lupa pake krim wajah dan bawa jagung! Kenapaa? Yah kan daripada beli jagung disana lumayan juga harganya (kemaren kami beli karna lupa bawa hiks) daan manggangnya bikin wajah puanasss makanya mesti pake krim pelembab yes. Hehe.

Besok paginya kami harus siap-siap pulang lagi ke Malang karena Cumami kesayanganku harus masuk kerja shift siang. Daaan cerita kepulangan kami kali ini amatlah tragis!

Gimana nggak, baru sampe Sampang (It is the 2nd City; Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) udah rewel motornya. Mesin tiba-tiba mati. Diutak atik sama Cumami dan Alhamdulillah mau hidup. Setelah setengah jam perjalanan ban motor lah pake acara bocor. Kami samperin bengkel terdekat dan apesnya kok didompet ga ada uang sepeser pun, lupa ambil uang di ATM! Akhirnya minta isikan angin dulu sama mas bengkelnya dan maksain perjalanan sampe nemuin ATM.

Sampai di kota Bangkalan, kempes lagi bannya dan dengan muka nahan malu untuk kedua kalinya minta isikan angin di tempat tambal ban, untung bapaknya baik, ga papa ga bayar😭 Menjelang kempes lagi akhirnya kami bernafas lega dari kejauhan melihat lambang ATM di Indo*a*et. Alhamdulillah akhirnya ada juga oase di Gurun Sahara lebay biarin.

Habis narik uang di ATM,  berjalanlah kami menuju tempat tambal ban dan katanya harus antri. Akhirnya kami minta angin ban lagi dan lanjut sampe ketemu tukang tambal ban berikutnya. Tik tik tik hujan turun, untungnya ada tukang tambal ban disitu. Sekalian lah neduh dan nambal. Pas lihat yang nambal, saya dan Cumami tatap tatapan. Anak SMA (SMK?) baru pulang sekolah dengan gaya meragukan itu yang mau nambal ban motor kami! Tapi yaaa ga mau prasangka buruk jugaa sih semoga aja bener dont judge the book from the cover!

Akhirnya hujan reda dan kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Suramadu, setengah jam berikutnya ini udah plong banget hati rasanya. Eeeh baru sampe ujung Suramadu (which is Surabaya Area) kok Cumami ngrasa motor oleng lagi. Bener aja, bannya Bocor LAGI! Ya Allah sabar sabarrr nyari tempat tambal ban yang ternyata berjejer disepanjang areal menuju jembatan Suramadu.

Perjalanan dilanjutkan daaaan motor oleng lagi!

&$$-$*$(@-#&##-#;#;@+#(($-%*-+-#

Gitulah perasaan hati kami kali ya. Soalnya udah jam 1 dan Cumami mesti dikantor jam 3 sore! Akhirnya mutusin buat ngisi angin dulu di Gempol terus lanjuuttt.

Sampailah di daerah Prigen daaan kalii ini mesin motor mati LAGI! Saya sampai speechless dan ga tega lihat cumami ngutak ngatik motor hampir setengah jam. Akhirnya kami ngdorong motor sambil cari bengkel.

500 meter pertama berhenti tapi bengkelnya bilang ga bisa,
500 meter kedua berhenti dan bengkelnya ga bisa juga
500 meter ketiga berhenti lagi dan bengkel disitu bilang tukang yang bisa datengnya sejam lagi
500 meter terakhir akhirnya ada juga yang nerima motor dan langsung dikerjain.
Pengalaman pertama ngdorong motor sepanjang 2 KM dan Cumami sampe ga karukaruan karna tenaganya habis bawa motor itu.

Waktu menunjukan pukul 3 sore saat motornya oke, kami lanjutin perjalanan yang udah berlangsung 7 jam itu dengan muka super kucel dan sisa tenaga.

Ban yang masih bocor rewel lagi di daerah Lawang dan kali ini kami tambal dengan nada ngancem ke bapaknya
“Periksa bener bener ya pak yang bocornya. Udah 2 kali loh ini ditambal dan ga beres juga”
“Periksa pak bannya siapa tau masih ada pakunya” dsb dst dll maaf ya pak jadi dicerewetin habisnya udah minus banget kesabaran dan tenaga. Habis itu kami mutusin buat makan dulu di RM. Padang seberang jalan. Udah laper banget perut isi air angin doang dari tadi.

Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat dan ga ada drama lagi. Huft. Dan Cumami baru berangkat kerja jam 5 sore! Padahal motornya uda diservis diganti juga onderdilnya sebelum berangkat tapi masih manja. Mungkin dia lelah…

Akhirnyaaa begini aja sih hehe. Sekian dan terima nasi tumpeng

AVATAR (The Legend of PD Pasar)

Dihari ke-7 saya di Malang yang diwarnai hujan ini saya jadi inget kantor dan sahabat saya disana.
Berhubung kerjaan beberes rumah bisa dipending, saya mau cerita dulu yaa…

Sebut saja kami AVATAR.

Kenapa namanya Avatar? Sayapun sampai saat ini lupa, darimana nama itu berasal? Ide siapa?

Apa ide Elis si Anak Sapat alias Avatar Angin yang sangat “kritis”?

Atau ide Ka Netty alias Imas alias Avatar Api yang menggebu gebu? (yang sampai saat ini masih tidak merasa dirinya adalah elemen api haha)

Mungkinkah ini ide Ka Ayu sang Ibu Kabid Keuangan yang juga bergelar 6 million dollars woman alias orang kada penyamanan alias Avatar Air?

Apa saya sendiri yang mau tak mau mengambil elemen terakhir yaitu Tanah yang suka sensian?

Jadiii saya ini dulunya adalah sekretaris yang bingung karna harus stay diruang kantor tanpa teman. Emang benar ruang kerja saya itu ga full dinding alias cuma terpisah sekat sama ruang Bidang Keuangan. Tapi kebayang dong; orang baru, ga punya senior secretary, ga ada temen seruangan, ruang sebelah kelihatannya isinya Ibu Ibu dan bapak bapak yang serius banget juga galak (khusus Imas), dan mau ga mau mesti sapa sapaan sama mereka karna cuma mereka yg bisa diajak ngobrol.

Baru beberapa hari ternyata Bu Mey, Pa Andin, Pak Saip, Bu Ayu, dan Bu Netty ga seperti yg saya bayangin. Asik juga mereka diajak curhat daaan oke oke aja dibully tiap hari (khususon Pa Andin alias Papi Kusuma alias manajer anak anak kemos haha). Kesan serius yang saya dapat pertama kali setelah liat mereka sirna gitu aja. Jadi banyak banget obrolan dari yg penting sampai tidak penting yg terjadi disana.

Sampai datanglah elemen angin menyerang alias Elis yang masuk 2 bulan setelah saya. Kirain Ibu Ilis ini orangnya pendiem gitu, astaagaa aslinya lebih cerewet daripada Ibu Kos nagih duit bulanan (Kata Ibu Ayu dia nyesel kasih tau ada lowongan kerja kalau tau si Elis begitu amat hehe). Pokoknya Elis yang cerewet klop banget sama Ka Netty yang emosian (hayoo Imas ngaku ngaku sampean itu API API API) Api kesulut banget kalau lagi bareng Angin.

Korbannya tak lain dan tak bukan adalah Ibu Kepala Bidangnya sendiri yaitu Ka Ayu yang orangnya ga enakan sama orang, nerimo, nurut (makanya dia kaya air yang mengalir, kan?) Walopun kalo lagi didesak traktiran lebih panjang ngomelnya daripada Ka Netty. Tapi sepanjang saya kerja disana emang Bu Ayu ga pelit sih. Dapat rezeki apapun pasti mau nraktir kita kita. Dan kalo lagi dibully Angin dan Api, cuma saya yang jadi pembelanya. Hehe. Walopun ujung ujungnya kami berdua kalah. Pokoknya di ruang keuangan yang sekat sekatan sama ruang sekretaris itu tiada hari tanpa kehebohan. Entah ngomelin si ono, diomelin si Inu minta traktir si Ini (korbannya biasanya Pangeran Andre, Pa Humaidi atau Direktur langsung haha. Level ngbajaknya sudah tingkat profesional kami ini).

Selain kehebohan kami berempat di Kantor PD Pasar, kehebohan lain juga terjadi di Mall, Rumah Makan, Karaoke, Bioskop sampai Tempat Ngopi pinggir Siring. Kenapaaaa? Karena kita berempat suka quartet date sama suami masing-masing dari makan dan nonton bareng.

Ditambah ide gila Elis sama Ka Ayu kalau tiap ada tanggal penting apapun harus dirayain dan traktiran bareng suami (Awalnya saya dan Imas menolak keras. Apa daya harus ngikut aturan dadakan ciptaan mereka berdua). Jadi mau ultah salah satu dari kami kek, ultah suami, ultah pernikahan, selamatan apapun harus traktiran. Kebayang kan bangkrutnya? huft. Yang paling enak sih jadi papi kusuma karena doi masih high quality jomblo. So, doi selalu jadi tamu kehormatan disetiap acara kami. Padahal kami udah lakuin segala cara lhoo biar doi dapet istri dari makcomblangin ama anak mak haji dipasar sampe ikut biro jodoh, tapi hasilnya nihil; ga cucoklah, ga jodohlah akhirnya doi belum bisa ganda campuran juga sampe sekarang.

Tibalah saat saya harus pergi dan ninggalin semua element berawalan A itu. Saya harus ikut suami ke Malang. Saya harus istirahat demi hadirnya sosok yang saya dambakan melebihi apapun di dunia ini. Hati saya sedih sekali harus pisah dengan ruangan bersekat itu, yang kecil tapi nyaman karena adanya mereka. Saya harus pamitan sama notulen rapat, laporan, dan tamu tamu beragam jenis maunya yg menjadi rutinitas harian. Pada teman-teman yang antar surat, nyari surat, ambil surat yang bikin saya gagal move on sampai saat ini. Pada Direksi yang mengizinkan saya belajar banyak dan memaafkan kesalahan dan kelambanan saya bekerja. Aah, saya jadi sedih…

So, Avatar ini adalah warna lain dalam hidup saya yang membuat saya bersyukur bekerja disana. Saya menemukan keluarga kedua yang baik hatinya. Sampai jumpa Air, Api, dan Angin. Semoga kita bisa bertemu di Malang yaa buat liburan bareng suami. Hutang saya traktiran bakal dilunasi, makanya kalian harus kesini. Semoga saya menjadi orang tak tak bisa kalian lupakan, sama seperti arti kalian bagi saya; Keluarga.

Sehari setelah last day saya mereka berempat keukeuh banget nyuruh ke kantor katanya buat kasih sesuatu yang baru boleh saya buka di Malang. Sebenarnya hari kedua disini sudah saya buka tapi tiap Elis tanya ‘sudah dibuka din kadonya?’ Saya jawab belum sempat. Niat saya memang membuat catatan ini buat mereka sekaligus rasa terima kasih saya untuk isi bingkisannya

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Surat dari Elis bikin saya terharu, surat dari Ka Nettie bikin ngakak guling-guling. Ternyata Avatar Api itu ada bakat jadi penulis novel humor. Sumpah lucu binggo haha.

Isi kadonya? Hmm. Kalian akan tahu saat mereka semua kumpul di Malang buat liburan bareng nanti di Blogpost selanjutnya.

By the way, telimikici teman teman. Kalian luar biasaaaaaaaa *peluk*